Aku merindu kehidupan seperti milik sebatang pohon, tampak tak sarat kesukaran.
Ia tak perlu takut akan kalut.
Meski ia tak tahu ke arah mana batang dan cabang-cabang kecilnya yang rapuh harus bertumbuh.
Ia tak perlu cemas akan sesat.
Meski ia tak tahu ke arah mana ranting-rantingnya yang kaku harus diayunkan.
Sesukar-sukarnya hal yang perlu ia lakukan adalah dua; percaya dan yakin.
Hanya kepada cahaya mentari yang menuntun lah ia perlu mempercayakan batang dan cabang-cabang rapuhnya tumbuh menyongsongnya.
Hanya kepada angin yang membelai lah ia perlu meyakini bahwa ranting-rantingnya telah tergiring dan mengayun ke arah yang semestinya.
Welcome to my constellation. The theme of this site was designed to prevent you from running away in horror.
Saturday, April 22, 2017
Wednesday, April 12, 2017
Rumah dan Jendela Tetangga
Aku tahu betapa perapian di rumah ini sudah rusak. Tapi aku bukan ahli perapian, kuabaikan ia rusak walau harus menggigil ketika malam datang membawa angin musim dingin yang menggigit.
Aku tahu betapa ia butuh diperbaiki. Tapi aku tak ingin orang lain melangkahkan kaki ke dalam rumahku, kan kuanggap ia penginvasi sekalipun itu si ahli perapian yang bisa membuat perapianku berfungsi sebagaimana mestinya.
Aku tak pernah tahu, bagaimana sang penghuni lama rumah ini bertahan melawan hawa dingin yang menggigit setiap malamnya. Atau rumah ini tak pernah berpenghuni sebelumnya? Aku tak tahu.
Aku tak pernah tahu, apakah hilang salah satu guna sebuah rumah tanpa perapian yang bekerja. Masihkah ia dapat tersebutkan sebagai sumber kehangatan? Aku tak tahu.
Tiga hari yang lalu aku tuna wisma. Aku tak mengenal makna sebuah rumah.
Aku tersesat atau terbebas sebelum terkurung dalam dinding-dinding dan langit-langit ini. Setiap dua belas detik aku bertanya di depan cermin, "Amankah di dalam sini?" Yang jelas aku kedinginan, tubuhku menggigil dan gemeretak gigiku mengacaukan pikiran.
Aku tahu betapa ia butuh diperbaiki. Tapi aku tak ingin orang lain melangkahkan kaki ke dalam rumahku, kan kuanggap ia penginvasi sekalipun itu si ahli perapian yang bisa membuat perapianku berfungsi sebagaimana mestinya.
Aku tak pernah tahu, bagaimana sang penghuni lama rumah ini bertahan melawan hawa dingin yang menggigit setiap malamnya. Atau rumah ini tak pernah berpenghuni sebelumnya? Aku tak tahu.
Aku tak pernah tahu, apakah hilang salah satu guna sebuah rumah tanpa perapian yang bekerja. Masihkah ia dapat tersebutkan sebagai sumber kehangatan? Aku tak tahu.
Tiga hari yang lalu aku tuna wisma. Aku tak mengenal makna sebuah rumah.
Aku tersesat atau terbebas sebelum terkurung dalam dinding-dinding dan langit-langit ini. Setiap dua belas detik aku bertanya di depan cermin, "Amankah di dalam sini?" Yang jelas aku kedinginan, tubuhku menggigil dan gemeretak gigiku mengacaukan pikiran.
Saturday, April 1, 2017
Haze
There she is, sitting in front of me with her eyes intently fastened to mine. Her fist is clenched and her lips bitten. I try to look into her eyes. But my vision gets blurry. I wink several times to get rid of some drops that is now obstructing me from her embodiment.
As my vision cleared, I study her face but I feel like looking at myself in the mirror and study my own feature. Those blue eyes and sharp jaws, she has definitely stole my feature.
She shook her head.
I suddenly feel ache in my chest as if I had a suffocation. My hands are trembling and I can't longer see her in the eye. I look away to the window that displays some overcast clouds. My vision gets hazier and this time, I can't hold the drops and let it all stream down my face.
"There is no more we," the pain in my chest is now spreading all over my body. Leaving me to feel like I am being struck by thousands arrows.
"Just leave me alone," her tone was as acrid as as a suffocating volcanic gas.
As my vision cleared, I study her face but I feel like looking at myself in the mirror and study my own feature. Those blue eyes and sharp jaws, she has definitely stole my feature.
She shook her head.
I suddenly feel ache in my chest as if I had a suffocation. My hands are trembling and I can't longer see her in the eye. I look away to the window that displays some overcast clouds. My vision gets hazier and this time, I can't hold the drops and let it all stream down my face.
"There is no more we," the pain in my chest is now spreading all over my body. Leaving me to feel like I am being struck by thousands arrows.
"Just leave me alone," her tone was as acrid as as a suffocating volcanic gas.
Subscribe to:
Posts (Atom)
