"Why you don't want to go to the beach? do you hate sea so much?"
I don't want to see her in the eyes and let her dive deep into my withered soul. Instead, I stared at the mirror behind her. I answered as if I was talking to myself.
"No, it's not the sea that I hate. I just can't enjoy being at the beach."
As I kept staring at myself in the mirror, I just realized that my eyes were more sunken and my cheekbones was more pronounced. There wasn't just a withered soul, but a withered figure as well.
"Why? Don't you find it peaceful to have the wind upon your face and embrace you? How come a human don't enjoy the music the waves make?"
Welcome to my constellation. The theme of this site was designed to prevent you from running away in horror.
Sunday, January 29, 2017
Sunday, January 15, 2017
Sadarlah, kau tidak buta.
Kau hanya diam dalam gelap.
Sadarlah, kau tidak mati rasa.
Kau hanya diam dalam hawa dingin yang membekukan.
Sadarlah, kau tidak tuli.
Kau hanya diam dalam kehampaan.
Dan sadarlah! Sadar bahwa kau sama sekali tak terusik karenanya.
Sadarlah..
Terusiklah..
Jangan diam seperti batu..
Kau hanya diam dalam gelap.
Sadarlah, kau tidak mati rasa.
Kau hanya diam dalam hawa dingin yang membekukan.
Sadarlah, kau tidak tuli.
Kau hanya diam dalam kehampaan.
Dan sadarlah! Sadar bahwa kau sama sekali tak terusik karenanya.
Sadarlah..
Terusiklah..
Jangan diam seperti batu..
Saturday, January 14, 2017
Hesitation
Will you run away?
Will I run away?
....
Will you run away?
No. I won't. Never.
Are you sure you won't?
....
Will you run away?
What do you want to hear?
Nothing. I want to hear nothing.
Then why do you keep asking?
....
Will you run away?
I can't promise you any words.
Why? You once answered me you won't.
Because I found hesitation in all your questions.
That's because I found hesitation in all your answers.
Thursday, January 5, 2017
Renjana
Yang dijaga mati-matian, tak kujumpai di mana pun.
Ia hilang.
Menambah luas kekosongan.
Kepada bayang-bayang dalam cermin, jiwa sekaratku bertanya,
Di mana ia yang kemarin berapi-api?
Di mana renjanaku?
Ia menatapku dengan iba. Menunjuk tepat ke dadaku.
Ia tetap di sana.
Tapi ia padam.
Ia hilang.
Menambah luas kekosongan.
Kepada bayang-bayang dalam cermin, jiwa sekaratku bertanya,
Di mana ia yang kemarin berapi-api?
Di mana renjanaku?
Ia menatapku dengan iba. Menunjuk tepat ke dadaku.
Ia tetap di sana.
Tapi ia padam.
Subscribe to:
Posts (Atom)

