"Ayah, orang-orang yang hilang kewarasannya dulu pernah seperti aku kan? Kalau aku tiba-tiba gila, ayah mau apakan aku?"
Ayah tak menaruh perhatiannya padaku. Ia tampak gelisah, berkali-kali diliriknya jam tangan hitam yang selalu ia kenakan di lengan kirinya.
"Ayah usahakan sampai kamu waras lagi,"
jawabnya setelah aku menarik ujung lengan bajunya.
"Kalau tidak bisa?"
"Ayah akan terima sesulit apa pun itu."
Ia melirik kanan dan kiri dengan resah, seperti hendak mencari celah di antara kendaraan-lendaraan yang terhenti.
"Kalau aku gila dan suka memukuli ayah?"
"Ayah tangkis."
Kini ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas roda kemudi.
"Kalau aku gila dan ingin ayah mendengar celotehan ngawurku setiap saat?"
"Akan ayah dengarkan," jawabnya sambil menghela nafas dan berdecak ketika lampu merah kembali menjebak kami.
"Jangan, ayah tutup telinga saja. Atau tutup mulutku."
"Baiklah, ayah tutup telinga saja ya sayang."
perhatiannya masih pada lampu merah yang belum berganti.
"Kalau aku gila, ayah jangan anggap itu aku ya. Ayah ganti namaku saja dengan nama orang lain.."
"Gila atau tidak, kamu kan tetap kamu, anakku."
Lampu berganti kuning.
"Tidak, ayah buang aku saja. Orang gila itu merepotkan. Seperti ibu di rumah yang tidak mau berhenti bicara padaku."
Kemudian Ayah terpaku sesaat. Dia menoleh dan dengan lembut tersenyum padaku. Tatapannya begitu menenangkanku, hal yang selalu aku inginkan darinya dan perhatiannya. Guratan-guratan di dahinya mengingatkanku pada kakek. Ia kemudian mencium keningku dan memelukku dengan erat.
Lampu kuning berganti hijau, kendaraan mulai tumpah memenuhi perempatan.
"Ayah, sudah hijau lampunya. Ayo jalan."
Ia tak melepaskanku. Pelukannya semakin erat dan kurasakan tubuhnya berguncang dan pundakku basah.
Aku terdiam di tengah hiruk pikik klakson kendaraan yang bersahut-sahutan di belakang kami.