Di kehidupanku yang lain, mungkin sekarang aku sedang bersenda gurau dengan anak-anakku. Aku, seorang wanita karier yang sukses, berpendidikan tinggi. Ibu menghubungiku tiap akhir minggu, menanyakan kabar cucu-cucunya. Sedangkan ayah tak henti-hentinya membujukku agar aku berkunjung dengan anak-anakku. Kakak dan adik sering mendatangiku, memintai saranku. Entah itu kepentingan keluarga, ataupun kepentingan karier. Tetangga-tetanggaku selalu ramah padaku, tersenyum tiap kali berpapasan. Aku aktif menyemarakkan lingkungan tempat tinggalku dengan mengikuti segala kegiatan. Teman-temanku selalu menanyakan kabarku dan sesekali kita menyempatkan diri untuk sekedar bertemu.
Ah, betapa indahnya kehidupan yang lain itu. Aku tersenyum kecil membayangkannya. Melihatku tersenyum, tangannya menggenggamku lembut. Aku tahu ia pun sedang tersenyum. Mungkin kehidupanku sekarang bersamanya tak seindah bayanganku tadi. Hanya ada aku dan dia, tak ada tawa anak-anak di kehidupan kami. Aku harus berhenti bersekolah tinggi karena orang tuaku tak lagi sudi membiayaiku. Ibuku tak pernah menghubungiku lagi. Ayah mengusirku dari rumah dengan caci-makinya dan tak mengizinkanku kembali ke rumahnya apapun alasannya. Kakak dan adik tak pernah lagi menganggapku saudara. Aku adalah aib bagi keluargaku. Tetangga-tetanggaku selalu tersenyum sinis dengan pandangan 'jijik' ketika kami berpapasan. Aku dikucilkan. Teman-temanku seakan sengaja melupakanku, mengadakan pertemuan tanpaku dan tak pernah menanyakan kabarku.