Saturday, March 28, 2015

#1 Flash Fiction

     Di kehidupanku yang lain, mungkin sekarang aku sedang bersenda gurau dengan anak-anakku. Aku, seorang wanita karier yang sukses, berpendidikan tinggi. Ibu menghubungiku tiap akhir minggu, menanyakan kabar cucu-cucunya. Sedangkan ayah tak henti-hentinya membujukku agar aku berkunjung dengan anak-anakku. Kakak dan adik sering mendatangiku, memintai saranku. Entah itu kepentingan keluarga, ataupun kepentingan karier. Tetangga-tetanggaku selalu ramah padaku, tersenyum tiap kali berpapasan. Aku aktif menyemarakkan lingkungan tempat tinggalku dengan mengikuti segala kegiatan. Teman-temanku selalu menanyakan kabarku dan sesekali kita menyempatkan diri untuk sekedar bertemu.

     Ah, betapa indahnya kehidupan yang lain itu. Aku tersenyum kecil membayangkannya. Melihatku tersenyum, tangannya menggenggamku lembut. Aku tahu ia pun sedang tersenyum. Mungkin kehidupanku sekarang bersamanya tak seindah bayanganku tadi. Hanya ada aku dan dia, tak ada tawa anak-anak di kehidupan kami. Aku harus berhenti bersekolah tinggi karena orang tuaku tak lagi sudi membiayaiku. Ibuku tak pernah menghubungiku lagi. Ayah mengusirku dari rumah dengan caci-makinya dan tak mengizinkanku kembali ke rumahnya apapun alasannya. Kakak dan adik tak pernah lagi menganggapku saudara. Aku adalah aib bagi keluargaku. Tetangga-tetanggaku selalu tersenyum sinis dengan pandangan 'jijik' ketika kami berpapasan. Aku dikucilkan. Teman-temanku seakan sengaja melupakanku, mengadakan pertemuan tanpaku dan tak pernah menanyakan kabarku.

Friday, March 27, 2015

Crawl


Tak pernah terjadi sekalipun sebelumnya. Semua selalu baik-baik saja setiap harinya. Terlalu lama seperti tak mungkin akan berubah. Aku merasakan guncangan hebat yang

membuatku meringkuk memeluk lutut sambil menggigit bibir. Ketakutan menggelitik punggungku.
Apapun yang akan terjadi, aku hanya bisa pasrah. Aku terlalu kecil, lemah dan tidak berdaya.

Tempat ternyamanku kini terasa lebih dingin dan gelap. Penglihatanku yang memang belum sempurna seakan menjerit, takut kehilangan cahaya dan buta selamanya.
Dinding ruangan ini pun semakin mendesakku tiap detiknya hingga akhirnya menyentuh kulitku.
seakan tahu aku memiliki tulang yang rapuh dan ingin menghancurkanku.

Disana, kulihat setitik cahaya yang semakin mengecil dan memudar. Tiba-tiba dadaku sesak dan panas. Tangan lemahku mulai meraih-raih putus asa. Berharap aku bisa menangkap oksigen. Kaki mungilku mulai menendang-nendang ke segala arah. Berharap bisa mendapatkan ruang lebih untuk bernafas. Namun tempat ini lebih kuat. Tak ada jalan bagi kaki dan tangan mungilku untuk merangkak.

Ya, aku terlalu kecil dan lemah. Tempat ternyamanku kini membunuhku, tak mengizinkaku menyambung asa. Aku pun terdiam, meringkuk dan berdoa dalam hatiku. Hingga perlahan ototku melemah dan kegelapan menyelimutiku. Aku mulai berdamai dengan semesta. Kupasrahkan jiwaku, kubiarkan tubuhku. Sesaat ketika tenang mulai kurasa, kupikir semesta berkata lain. Aku merasakan sesuatu menendang tubuhku dari bawah. Disana, kulihat titik cahaya yang memudar kini semakin terang, dan aku tahu, aku telah di tuntun menuju cahaya itu. Asa dalam jiwaku yang hancur seakan tersusun kembali, aku memejamkan mata dan berteriak bersemangat menuju cahaya itu.

Aku berhasil. Tak lagi terjebak dinding. Hanya tangan besar dan hangat yang terasa memegang tubuhku. Dadaku mulai terisi udara ketika aku membuka mulutku. Aku tak sabar, ingin membuka mataku dan melihat seindah apa tempat selanjutnya yang semesta sediakan untukku.
Saat kubuka mataku..