Saturday, February 16, 2013

Just it


Hari ini, gue membaca sebuah surat yang sama sekali gak ada sangkut pautnya dengan gue. Bukan dari gue, bukan pula untuk gue. Tapi lo tau? Gara gara surat itu,  sekarang gue bener-bener percaya kalau kata kata itu memang benar mempunyai 'kekuatan'. Surat itu berisi tentang hidup. Tentang kita hidup di dunia. Memang ga begitu panjang, tapi cukup untuk membuat gue berpikir. Berpikir tentang hidup. Sesuatu yang sudah lama sekali gak gue lakuin, lebih tepatnya gue berhenti melakukannya, karena itu hanya membuat hati pedih, mata panas, karena gue ga ngerti tentang hidup dan bagaimana gue harus menyikapinya. Semuanya terlihat salah. Hidup ini terlihat salah. Gue terlalu banyak memasukkan pendapat orang tentang hidup dan ga pernah sadar, kalau arti hidup kita (re: definisi) itu semestinya kita sendiri yang membuat. Karena hidup orang gak akan pernah sama satu sama lain.

  Akhir akhir ini (yang mungkin sudah hampir setahun) gue gak pernah berpikir tentang hidup gue lagi, yang gue lakuin cuma menjalani hidup dan berusaha untuk senormal mungkin. Gue menjalani kehidupan sehari-hari tanpa berpikir. Dan gue menjalani itu semua dengan beribu-ribu perasaan yang terselubung (yang tak pernah mengambang dan terlihat orang), dan penuh dengan akting. Akting kalau gue memang seharusnya hanya menjalankan sekolah, ibadah dan aktifitas lainnya. Tanpa perlu lagi bersedih dan berpikir terlalu dalam tentang hidup yang akhirnya hanya akan menyakitkan hati.
Tapi setelah membaca surat itu, gue sadar kalau gue sudah terlalu jauh berakting. Gue sadar, peran gue sudah sangat jauh dari diri gue yang sebenernya. Gue terlalu mengikuti arus kehidupan dan mengaggap itu semua sebagai apa yang orang bilang "Jalani hidup dengan suka cita, jangan pikirkan masalah karena hidup itu sendiri adalah masalah & selalu bersyukur". Ya, gue berakting karena gue pikir gue harus bersyukur, menerima semua apa adanya. Tapi apa iya ini yang namanya bersyukur? Gue sadar kalau yang gue lakuin itu bukanlah bersyukur. Tapi berpura-pura untuk bersyukur. Berpura-pura kalau this is what it's mean to be. Berpura pura kalau everything's fine, i was just take it too serious.
Apa ya, mungkin kalau bisa di ibaratkan, gue udah seperti patung yang mati rasa. Gue mengabaikan semua unsur afeksi dan berpura-pura bersyukur. Padahal, gue (manusia) tercipta mengandung unsur afeksi yang membedakan hidup gue dengan hidup hewan. Itu artinya, akhir akhir ini, gue seperti menjalankan hidup sebagai hewan. Gue ga pernah lagi bermimpi, bercita-cita, memikirkan apa yang akan gue lakuin nanti, dll. Yang gue lakuin cuma memandang hidup orang lain dan mengikuti apa yang orang lain inginkan tentang gue. Seperti ketika orang berpikir bahwa menjadi dokter merupakan sesuatu yang keren, gue ikut berpikir demikian, gue terlalu mengedepankan logika dalam berpikir (dan menyampingkan emosi/afeksi). Seperti ketika orang berkata di belakang gue bahwa mereka bingung kenapa gue ga seperti orang yang mereka pikir, gue malah berusaha menjadi orang yang mereka pikir gue.
Sekarang gue berpikir kalau selama ini gue salah dengan berlaku sok bersyukur. Tapi gue pikir gue juga salah jika menjadi seperti dulu (terlalu memikirkan masalah). Karena apa? Masalah yang gue punya gak seperti 'masalah'. Karena gue pikir ini gak bisa di selesaikan karena memang gak ada (siapapun) yang membuat kesalahan (dalam masalah-masalah gue). Jika gue mencari siapa yang salah dengan menelusuri benang kesalahan tersebut, benang itu akan berhenti di ujung dengan Tuhan memegangnya. Ya, pada akhirnya gue akan menyalahkan tuhan. Itu juga sesuatu yang salah kan? Gue gak tau sebenarnya apakah yang menjadi masalah itu? Apakah pola pikir gue tentang masalah?
Pada akhirnya gue sadar bahwa yang gue butuhkan adalah kebahagiaan yang menurut surat yang gue baca, itu adalah sesuatu yang tidak sederhana. Karena tak sederhana itulah, cara berpikir gue mungkin tak sampai. Gue gak percaya sama sesuatu yang berbau kebahagiaan. Gue gak pernah bisa merasakan kebahagiaan ketika gue menjadi diri sendiri. Gue cuma bisa menjadi orang lain dan berpura-pura bahagia. Ya, itu yang selama ini gue lakuin. Mungkin lo gak bakal ngerti dan bingung, sebenarnya ini tulisan tentang apa? I'm sure you'll got yourself in a bit of pickle, looking for a point in this sentences.
Intinya disini adalah gue mencurahkan hati tentang masalah gue. Tapi dengan cara yang berbeda, gue emang gak pernah bisa menjadi orang yang terbuka tentang masalah gue. Karena apa? Gue selalu berpikir kalau masalah yang gue ceritain ke orang gak akan berarti apa-apa karena mereka gak merasakan (di sini, jika kalian pintar menganalisa, kalian akan tahu kalau gue seseorang yang tidak percaya dengan apa yang dibilang 'teman'). Untuk jujur, gue juga orang yang canggung. Canggung bila belum mengenal kalian. Bahkan, jika sudah kenal dan tak pernah bertemu lagi pun, gue akan menjadi canggung kembali terhadap kalian, karena gue lupa bagaimana cara bergaul dengan kalian. Tak peduli siapa kalian, teman atau bahkan saudara. Tapi ketika gue sudah mengenal kalian, dari cara gue bergaul sama kalian, orang yang melihat gak akan pernah menyangka kalau pada awalnya gue canggung untuk mengenal kalian.
Ya, inilah cara gue menyampaikan masalah gue tanpa harus menjelaskan apa sebenarnya masalah gue. Gue gak pernah berpikir yang muluk-muluk kalau kalian -sebagai teman akan mengerti. Itu pendapat gue sendiri tentang teman. Tanpa ada quotes (tentang teman) siapapun yang mempengaruhi.

No comments:

Post a Comment