Saturday, April 11, 2015

Kenapa Sastra Inggris?

Time really flies. I can't believe my high school life will be over soon. I'll be having my national examination next monday (please wish me a tons of luck!) and after that it's really over. I really really hope i can get pass the SNMPTN or SBMPTN or any kind of test so i can study as a freshman this year. As i stated in the title of this post, you don't need to guess what major i'll be taking in the university. Yes, it's sastra inggris/english literature. Some people wonder why did i chose that major because apparently english literature is part of ilmu budaya which suppose to study social science (IPS) while i'm a student of IPA.
So actually, this post is an answer to those who asks me why i am planning to take english literature as my study and why the hell i am lintas jurusan. Sebenarnya sih, ini hanya copy-paste saja dari tugas esai bahasa Indonesia Hahaha. Jadi maaf kalau format dan bahasanya memang sangat esai. But I've made it shorter because it's too long. I've also removed some paragraph that i don't want to share because it's too personal and too private.
So here's the answer to those who's been asking me.

Kenapa Sastra Inggris?

   Pendidikan di Indonesia secara umum mengelompokkan ilmu menjadi dua rumpun, yaitu rumpun sosial dan sains. Tujuan dari pengelompokan atau penjurusan ini katanya sih supaya siswa lebih fokus. Idealnya, siswa yang mempelajari ilmu sosial akan mendalami ilmu tentang interaksi sosial masyarakat di dalamnya terdapat pelajaran khusus seperti sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi. Sedangkan siswa yang mempelajari ilmu sains akan lebih fokus mempelajari bagaimana alam ini bekerja melalui ilmu fisika, kimia dan biologi.
  Saya ingin bercerita pengalaman saya ketika diharuskan memilih jurusan IPA atau IPS ketika ingin melanjutkan tingkat ke grade sebelas. Pada waktu itu, saya sangat dibingungkan. Di satu sisi, saya menyenangi ilmu-ilmu eksak tertentu yang mempermainkan logika atau penalaran dan analisis seperti matematika dan fisika. Selain di bidang tersebut, minat dan kemampuan saya hanya rata-rata. Namun di sisi lain, saya bukanlah orang yang tekun dan cenderung 'memberontak'. Saya tidak suka tertuntut ataupun di tuntut dalam mempelajari apapun. Sedangkan jurusan IPA sangatlah kompetitif. Artinya, mau tidak mau saya akan dituntut untuk belajar dengan cara yang sama lalu di labeli akademisi. Hmmm sama sekali bukan 'saya'. 
   Saat saya hendak memutuskan untuk mengambil jurusan sosial, saya berpikir lagi. Saya tidak suka menghafal. Karena rasanya seperti di tuntut dan di paksa dalam belajar. Saya lebih senang menghitung dibanding menghafal. Cara belajar saya pun rasanya tidak cocok. Di jurusan IPS, guru akan lebih banyak memberi dan siswa harus bisa menyerap. Sedangkan saya tidak bisa belajar hanya duduk diam selama berjam-jam dan mendengarkan guru berbicara. Saya pasti akan lebih sering tertidur di sekolah. Tapi di sisi lain, saya lebih bisa leluasa mengembangkan skill-skill saya di luar akademis bila saya memilih jurusan IPS. 
   Disitu kadang yang sedih. Terpikir bahwa sistem pendidikan di Indonesia dengan mengelompokkan ilmu menjadi dua rumpun (secara umum) terasa sangat mendiskriminasi bagi orang seperti saya. Saya merasa kurang disediakan pilihan. Akhirnya, saya berpikir, apapun jurusan yang akan saya pilih, saya akan terus belajar walaupun dengan cara saya sendiri. Apapun ilmunya, bila itu membuat saya tertarik dan menambah wawasan, akan saya pelajari, terlepas dari rumpun apapun ilmu tersebut diajarkan. Saya tidak mau terdiskriminasi dalam belajar dan saya tidak akan 'mengkotak-kotakkan' ilmu. 
   Pada akhirnya, inilah saya yang sekarang. Seorang siswa dari jurusan IPA yang akhirnya dengan nekat mengisi "Sastra Inggris" di kolom pilihan jurusan pada website SNMPTN. Prinsip tadilah yang akhirnya membuat saya mengambil resiko untuk lintas jurusan. Untuk masa depan saya, saya merasa memiliki hak penuh dalam memilih. Saya tidak peduli dengan pandangan negatif orang lain selama jalan yang saya pilih tidak melanggar peraturan yang di buat. Saya sudah memikirkan semua konsekuensinya dan akan bertanggung jawab terhadap pilihan saya.
  Sejak kecil, saya memiliki kesenangan akan kata-kata. Saya senang membaca cerita-certa dan ensiklopedia mini. Hingga saya besar, saya mulai memperluas genre bacaan mulai dari historical science, science fiction, fantasi hingga filsafat. Saya juga tidak takut untuk membaca bacaan-bacaan yang membahas topik-topik sensitif seperti SARA. Hanya dengan membacalah semua hasrat keingintahuan saya terpenuhi dengan mudahnya tanpa takut akan pandangan orang-orang. Ya, dengan membaca semua hal yang terlalu tabu dan aneh untuk di tanyakan dapat saya ketahui. Saya tak perlu diberi label aneh atau kurang ajar karena menanyakan suatu hal yang padahal murni hanya berasal dari rasa keingintahuan. Meski begitu, saya tidak pernah mencerna mentah-mentah apa yang disajikan suatu bacaan. Saya menyadari betapa kuatnya kata-kata dalam mempengaruhi seseorang. Seperti pisau tajam yang bisa sangat berguna sekaligus sangat membahayakan.
   Secara tidak disadari, kegemaran saya akan membaca telah membentuk saya menjadi pribadi yang kritis, imajinatif dan haus akan ilmu pengetahuan. Saya mulai berkeinginan menggebu-gebu untuk menjelajahi dan mengeksplorasi dunia. Karena dengan membaca, saya sadar bahwa hanya sedikit yang saya ketahui tentang dunia ini. Bermilyar-milyar manusia, berjuta-juta suku dan ras, beribu-ribu pulau, semua pasti menyimpan cerita unik yang ingin sekali saya ungkap. Mungkin ini hal yang jarang saya ucapkan dari mulut pesimis saya dan mungkin terdengar sangat muluk; saya sangat ingin berkeliling dunia, menjajah tiap inci dan jengkalnya.
   Seiring dengan keinginan saya untuk berkeliling dunia, saya mulai menyadari bahwa saya memiliki modal yang seharusnya bisa saya olah menjadi nilai tambah, yaitu bahasa inggris. Namun, saya rasa modal tersebut masih perlu diasah agar dapat menjadi sebuah keuntungan. Oleh karena itu, kedepannya saya ingin secara serius mempelajari struktur dan tata bahasa dari bahasa Inggris. 
   Pertimbangan akan minat, kemampuan dan cita-cita saya di atas cukup membuat saya yakin bahwa sastra Inggris adalah jurusan yang tepat bagi saya. Saya berharap kedepannya, jurusan yang saya pilih ini dapat membuat saya terus belajar, membuka jendela dunia bagi saya dan mendukung saya dalam mewujudkan keinginan-keinginan saya.
***
So that's a 737words essay that i think explain too much lol. I hope someday i can reread this post with pride because i've reach everything i have written here. I also wish that this post is not gonna be a shameful writing and a witness of my failure. Whoever writes my life story, please write  a happy ending. Whatever controls this universe, please don't make it against me and my dreams. Make it support me.

1 comment: