Biarkan aku sekarat dalam hausku
Jangan pernah kau tawarkan padaku larutan buatanmu itu!
Aku sungguh akan menolak dengan keras
Menangis dan meraung memohon agar tak kautawarkan
Namun takkan sanggup kubencimu jika akhirnya pun kau tawarkanku
Akan kuteguk meski madu yang kuharapkan
Aku akan selamatkanmu dari haus
Namun tak akan kubasahi kerongkonganmu dengan larutan buatanku itu
Aku akan membenciku!
Biarlah tubuhmu meronta-ronta hebat sedikit lebih lama karena dahaga
Sampai kutemukan setetes madu di tengah padang pasir
Tempat kau berbaring menatap fatamorgana
Biarkan aku meminum sendiri larutan buatanku
Bebaskanku dari siksa dahaga dan kekeringan
Bagiku manisnya melebihi madu, aku ketagihan!
Meski sudah berkali-kali kutengok isi cawanku itu,
Bukanlah apa-apa melainkan racun di dalamnya!
Aku akan berbaring tenang setelahnya
Tak peduli luka-luka dalam yang racun itu sebabkan
Terlalu sibuk kunikmati larutanku itu
Tapi kumohon!
Jangan kau minum larutanmu itu
Tengoklah cawannya, tak ada apa pun melainkan racun.
Kusadari dalam cawan kita adalah larutan yang sama, racun yang tak kau jumpai di mana pun. Racun yang mengaliri batang pohon kepalsuan.
No comments:
Post a Comment