Siang itu aku datang dengan satu lagi luka baru yang masih basah. Tersembunyi dibalik balutan baju hangat yang begitu jarang kukenakan. Luka ini akhirnya muncul dengan guratan jelas diatas kulitku setelah lama ia hanya berupa potensi, bulatan memar yang tak tampak.
Aku meringis ketika lukaku tak sengaja tersentuh lengannya. Untuk pertama kalinya aku memperhatikan lengan itu, lengan yang selalu berupaya menggapai dan merengkuhku dalam dunia sepinya.
"Luka baru?"
Aku hanya mengangguk dan memaksakan senyum kepada orang asing ini. Tak ada yang kuingat tentangnya, bahkan namanya. Ia selalu kuabaikan.
Hari ini pandanganku menyapa sekujur tubuhnya, bukan lagi hanya pada bayangannya.
Lalu tersingkaplah, kain yang menyelubungi tubuhnya. Aku terpaku menatap kulitnya yang kotor, dipenuhi lebam dan goresan-goresan yang dalam. Lingkaran biru dan garis-garis merah memenuhi sekujur tubuhnya.
Tentang luka-luka dan lebamnya yang sesekali dua kali pernah kudengar dari kicauan burung-burung di loteng, bukanlah sekadar rumor.
"Kaukah yang burung-burung itu selalu ributkan? Kau hanya terjatuh sekali. Bagaimana tubuhmu bisa sehancur ini?" aku tak dapat menahan getaran hati yang mendesak dari suaraku.
"Ini luka-luka perjalanan. Aku tengah melewati jalan yang berduri dan berkabut, dan aku masih melangkah ke tempat yang kutuju."
Dengan lembut ia menggulung lengan baju hangatku, mempelajari dan memperhatikan luka baruku dan kali ini aku tak menolaknya.
Luka kami serupa.
Dan ia masih belum sejengkal lebih dekat daripada tujuannya.
No comments:
Post a Comment