Sunday, January 28, 2018

ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20.
Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja.

Kamu tahu? Tentu tidak.
Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi.

Kamu tahu? Tentu tidak.
Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu
di atas kursi di samping jendela ini,
aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan. 


Kamu tahu? Tentu tidak.
Sepanjang perjalanan,
aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara. 

Kamu tahu? Tentu tidak.
Aku ingat percakapan yang biasa terjadi ketika salah satu dari kita berada di kereta. Tentang buku-buku bacaan yang kita habiskan dalam satu kali perjalanan, tentang orang asing yang duduk di samping atau yang paling kekanak-kanakan adalah tentang keluhanku terhadap raungan anak-anak kecil.


Kamu tahu? Tentu tidak.
Hari ini aku duduk di samping  seorang ayah yang dengan lembut menggendong anak kecil yang rewel. Tapi tidak seperti biasanya, aku tidak merasa terganggu karenanya! 
Aku pikir itu semua karena suara gesekan roda kereta yang bersentuhan dengan rel lebih lantang dari biasanya. 


Tapi bukan, kusadari ada yang lebih bising dan mengganggu daripada hal itu: ingatanku

No comments:

Post a Comment