Matahari mulai merendah. Sinar jingganya mengintip dan menyelinap dari balik gedung-gedung. Aku menutup pagar rumah temanku dan berjalan menapaki gang kecil menuju jalan raya. Hari ini benar-benar menyenangkan. Bermain bersama teman, menjadi diri sendiri dan melakukan hal-hal normal lainnya yang biasa dilakukan anak sekolah dasar. Sesekali, aku memang perlu melakukan hal-hal semacam itu. Aku berhak memperoleh kesenangan walaupun aku tahu, akan ada harga yang harus kubayar untuk kesenangan kecil itu.
Aku terus berjalan hingga gang rumahku tinggal beberapa langkah lagi. Aku memperlambat langkahku. Kesenganganku mulai terhapus, digantikan oleh kegelisahan. Otakku mulai berpikir tentang apa yang harus kukatakan pada ibu. Tidak mungkin aku jujur, aku telah meninggalkan tanggung jawabku hanya untuk bermain. Ibu pasti marah besar. Ah, tak apalah, aku berbohong untuk kebaikanku kali ini. Rasanya lebih baik berdosa daripada dimarahi ibu.
Kubayangkan pertanyaan yang akan dilayangkan ibu dan bagaimana aku akan dengan percaya diri menjawabnya. Namun, semakin aku dekat dengan rumah, keberanianku semakin goyah. Ingin sekali aku berputar balik dan lari sekencang-kencangnya, menjauhi rumah. Tapi aku tak bisa. Aku harus tahu diri bahwa ibu lah yang sudah menyekolahkan dan menghidupiku semenjak TK. Sudah sepatutnya aku menurutinya. "Klik" aku memutar gagang pintu. Keberanian dan kepercayaan diriku runtuh ketika aku melihat ibu terduduk. Semua skenarioku buyar.
Aku hilang kontrol. Kacau. Aku bahkan sudah berkata-kata sebelum terlontar pertanyaan dari mulut ibu. Rencanaku untuk berbicara dengan percaya diri dan meyakinkan gagal total, suaraku bergetar hebat dan mataku panas. Setelah menyadari kebodohanku, aku menundukkan kepala. Aku tahu aku sudah runtuh, sudah kalah. Hanya akan mengalir air mataku bila kulanjutkan. Hal yang terjadi selanjutnya sudah bisa kutebak. Ibu meninggikan suaranya. Aku merasa semakin tak berdaya saat ia bilang ia tahu aku berbohong. Ibu memang seakan tahu segalanya, setiap cela dalam diriku. Selanjutnya, seperti biasanya, aku hanya menunduk dan menyembunyikan air mataku.
Inilah harga yang harus kubayar.
***
That's it, another flash fiction i made. I came up with this idea when i saw my step sister caught lying by my mom. She told my mom that she was having tutor at school while actually she was playing in her friend's house.
This is so random. I'm so random. Just wanna tell you that even the simplest thing happen in daily life can strangely inspire me to write something.
I'm having the national examination in 2 days and my preparation hasn't reach 50% yet......... and now i'm blogging.






