Saturday, December 30, 2017

A longing gaze

That figure is just a small portion of composition inside the frame of my eyes
A shadow that stands still, looking fastened into my soul
It is far away, yet I recognize that gaze


It is a longing gaze.


How could it learn to perceive?
Did it read the burned script?
In that moment the desire emerges

I run
Despite this burdensome shell I carry

I embrace
Despite the suffocating smell it bursts

Wednesday, December 27, 2017

I am tormented by my inability in expressing these things flaring up inside me. I need those words with the greatest capacity to manifest this strong emotion. But I found them nowhere inside my mind. I guess it's time for the silences to speak then. Can you hear them now?

Monday, December 25, 2017

Relung

Dulu aku hanya mendengar dari burung-burung bising di hutan, tentang keberadaan relung yang selalu digemakan. Saat itu, kapan pun aku berjalan, seekor macan selalu membuntutiku.
"Semua manusia sudah pasti pernah berkunjung ke sana. Bagaimana kau luput?" mereka selalu bertanya padaku. Berkali-kali aku menyelami danau-danau, menyebrangi sungai-sungai, menyusuri jurang-jurang dan mendaki gunung-gunung. Tersesat ke sana kemari, namun tak kunjung kujumpai relung itu. Aku terus bertanya-tanya pada kijang dan kelinci di hutan. Mereka hanya berlari terbirit-birit. Kusadari macan yang membuntutiku telah membuat mereka ketakutan. Aku telah menumbuhkan sang macan, hingga tubuhnya kini tiga kali lebih tinggi dan kokoh dariku. Pada akhirnya aku mengabaikannya.

Saat aku terduduk lelah tanpa asa di atas dedaunan kering dan telah lupa akan warna langit dan rasi bintang yang menuntun, seekor kuda menghampiriku dan mengulurkan surainya. Aku tak mengerti bahasa kuda, namun kupercayakan ia menuntunku dan di sini lah aku saat ini. Pada relung yang selalu kucari. Ia yang dulu terdengar jauh, terasa dalam tak terjamah. Kurasakan genggamanku pada surai melemah dan sang kuda lari meninggalkanku. Sendiri. Di antara hening dan dingin. Aku telah sampai, namun aku terlambat. Semua manusia telah pergi dan melanjutkan perjalanan mereka.

Tuesday, December 19, 2017

How is everything going without me? I hope your days are much brighter than mine.
You know, I never expect that you would stay this long both in my conscious and unconscious mind.

It was a beautiful reddish sky, they said.

Monday, December 18, 2017

Insanity

"Ayah, orang-orang yang hilang kewarasannya dulu pernah seperti aku kan? Kalau aku tiba-tiba gila, ayah mau apakan aku?"
Ayah tak menaruh perhatiannya padaku. Ia tampak gelisah, berkali-kali diliriknya jam tangan hitam yang selalu ia kenakan di lengan kirinya.
"Ayah usahakan sampai kamu waras lagi,"
jawabnya setelah aku menarik ujung lengan bajunya.
"Kalau tidak bisa?"
"Ayah akan terima sesulit apa pun itu."
Ia melirik kanan dan kiri dengan resah, seperti hendak mencari celah di antara kendaraan-lendaraan yang terhenti.
"Kalau aku gila dan suka memukuli ayah?"
"Ayah tangkis."
Kini ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas roda kemudi.
"Kalau aku gila dan ingin ayah mendengar celotehan ngawurku setiap saat?"
"Akan ayah dengarkan," jawabnya sambil menghela nafas dan berdecak ketika lampu merah kembali menjebak kami.
"Jangan, ayah tutup telinga saja. Atau tutup mulutku."
"Baiklah, ayah tutup telinga saja ya sayang."
perhatiannya masih pada lampu merah yang belum berganti.
"Kalau aku gila, ayah jangan anggap itu aku ya. Ayah ganti namaku saja dengan nama orang lain.."
"Gila atau tidak, kamu kan tetap kamu, anakku."
Lampu berganti kuning.
"Tidak, ayah buang aku saja. Orang gila itu merepotkan. Seperti ibu di rumah yang tidak mau berhenti bicara padaku."
Kemudian Ayah terpaku sesaat. Dia menoleh dan dengan lembut tersenyum padaku. Tatapannya begitu menenangkanku, hal yang selalu aku inginkan darinya dan perhatiannya. Guratan-guratan di dahinya mengingatkanku pada kakek. Ia kemudian mencium keningku dan memelukku dengan erat.
Lampu kuning berganti hijau, kendaraan mulai tumpah memenuhi perempatan.
"Ayah, sudah hijau lampunya. Ayo jalan."
Ia tak melepaskanku. Pelukannya semakin erat dan kurasakan tubuhnya berguncang dan pundakku basah.
Aku terdiam di tengah hiruk pikik klakson kendaraan yang bersahut-sahutan di belakang kami.


Thursday, December 14, 2017

memory

When an event is beyond traumatic, there will be too much informations our brain receive. Everything seems to happen in a flash so we missed things and we lost details. The insistent information make us fail to make sense of everything at that time..

Then, here comes the role of memory. Only when we stop trying to forget and deny the thing that happened, we could learn from the past.

When we allow ourselves to seek whatever it is stored in the memory with no anger, hatred or denial, we will be able to trace every detailed information of the event, including those we wish to forget.
Then we will be able to remember deeper, not only holding on to the good things that we want to remember.

When all the informations are gathered, the good and the bad things,  we could reconstruct the event and get better understanding of it. We'll be able to make sense of that situation.

It sure takes time for us to come to the point of releasing  the suffocating feeling of hurt, anger and hatred. And  everyone has their own time zone.
But once we reach that point, we will understand, we will accept, we will learn and we will grow stronger.


Sunday, December 10, 2017

Insignificant

On 4-7 December, my artwork entitled 'Insignificant' was exhibited on PENAGAMA, an annual art exhibition held at PKKH UGM by Unit Seni Rupa UGM (USER UGM). The theme of the event was  "How A Human To Be."
It was my first installation artwork.


With the help of some friends (and strangers!), I finished my work in two days and two nights. At first, I didn't intend to make the display table by myself but turned out I couldn't afford to buy the display cube or to hire a craftsman. It was so challenging for me as I have never tried to sew nor hammer ever. 

Friday, December 8, 2017

An Hour With Sri Sultan


Yesterday, I went to Kepatihan Yogyakarta. I went there with some committee of Nitilaku, an annual cultural event held by my university.
I was assigned to take some snapshots of him in a room with older committees talking about the event.

Thursday, December 7, 2017

Ingin

Lenganku masih kotor
Nafasku masih kering
Dan rintihanku masih sumbang

Pelan-pelan kubasuh tubuhku dengan salju
Kupasrahkan diriku pada embun yang menyejukkan
Hingga luka yang meradang berjumpa tenang

Aku masih ingin berdiri
Aku masih ingin bersandar
Aku masih ingin bercerita

Samar-samar ia yang lama terabaikan kembali memanggil
Dengan segala upaya kulepaskan belenggu yang merantai kaki

Meninggalkan segala ingin

Wednesday, December 6, 2017

"Never forget what you are, the rest of the world will not. Wear it like armor and it can never be used to hurt you."
"Once you have accepted your flaws, no one can use them against you."

-Tyrion Lannister

No one could have hurt me if I could just remember the armor I posessed and wear it in the battle. Basically all I did this whole time was a suicide.