Wednesday, October 19, 2011

Cerita

Aku duduk di atas pagar balkon yang pemandangannya langsung ke lembah hijau dan sawah-sawah. Ku tarik nafas panjang, ahh segarnya udara di sini. Domba domba di padang ruput yang hijau itu terlihat seperti gumpalan kapas kecil-kecil. Di samping padang rumput tempat domba digembala, air sungai jernih yang turun dari air terjun kecil mengairi sawah-sawah petani. Suara kincir air di sungai itu terdengar lembut bagai alunan angklung dari sini. Aku membuka backpack ku, dan ku keluarkan kamera digital slrku ke pangkuanku. Aku meneliti objek-objek, mencari sudut yang sempurna. Ku intai suatu objek, ku putar lensa kameraku, ku pertajam dan perbesar objek itu dan "hup" aku menahan nafas dan dengan cekatan ku tekan tombol shutter. "Fiiii pinjem kameraaaa sinih," seseorang memanggilku. "Apasih lagi dipake.. Baru juga pegang," jawabku malas. Aku melanjutkan aktivitasku tadi, mengambil gambar. "Buruan Fiaa, punya Avinya lowbatt, ga bawa chargeeeer!" Avi, kembaranku kini menarik narik lenganku, membuyarkan konsentrasiku, gambar yang ku ambil
hasilnya jadi blur. Aku hanya bisa menghela nafas. Ku serahkan kameraku padanya. "Nih," kataku sambil menyodorkannya. Ketika aku turun dari balkon dan hendak memasuki kamar hotel (balkon tadi balkon dikamar hotel), ia menarik lenganku. Kali ini dia tersenyum padaku, senyum termanisnya. "Apa lagi? Udah cepet ngomong," kataku. Aku bisa menebak, dia menginginkan sesuatu dariku. "Fotoin Avi yaaa, backgroundnya pemandangan ini. Pokoknya cari sudut yang bikin muka Avi keliatan cantik. Yayaya? please," bujuknya. "muka Avi mah digimana gimanain juga ga bakal cantik," kataku bercanda. Haha, kalau aku bukan saudara kembar yang banyak gengsinya pasti aku sudah memujanya. Ya, Avi memang cantik di segala kondisi. Bangun tidurpun dia masih tergolong cantik. "iih Fia mah seriusaaan," katanya merengek. "iya iyaaaa bawel lo tuh errh,". "Dimana nih? disini aja apa ya? bagus gak?" "jangan ngebelakangin cahaya viii. Ntar item," "ya udah terus dimana dong?" "di sini aja, belakangnya kan hijau semua tuh jadi kaya terbang Avinya," "ya udah, disini yaaa," "iyaa baweeel". Avi berpose. Pose reflexnya. Anggun sekali. Dia memang sudah dialiri jiwa modelling, tanpa disadarinya. Aku tau kelebihannya itu, tapi karna rasa iriku dan gengsiku lebih tinggi jadi yaaa ngapain puji puji haha. Bercanda. Hubungan kita ya selayaknya anak-anak kembar lainnya. "Viiii bagus bagus loh," "mana manaa?" "ini yang ini bagus banget," kataku. "huaaa bagus Fii backgroundnyaa akunya juga jadi terang," "emang maksud Fia tuh backgroundnya yang bagus. Modelnya gak tau deh. HAHAHA" Avi manyun, memukul mukul lenganku, manyun saja masih cantik. "sini gentian Avi fotoin Fia. Tempatnya kya Avi tadi. Gayanya terserah Fia. Yang bagus," "Gayanya gimana ih Fia ga bisa," kataku dengan muka melas. 'cklik' aku bengong 'cklik' lagi. Aku sadar. "AVIIIIIII apus gaaaa?! SINIIN! Aviiii!" Bukannya menyerahkan kameranya padaku, ia malah membawanya masuk kamar hotel. "Huaaaaa, jangan di apuuus, baguuuus. hahahahaha," dia berlari menghindariku yang mengejarnya. "sialan aviiii siniiin!" aku masih mengejarnya, ia malah naik dan loncat-loncatan di tas sofa. "Avi jangan gitu nanti jatoh slrnya! iih," kali ini aku kesal. serius. "Tapi Avi mau foto Fia di tempat Avi difoto tadi ya. Baru Avi apus," dia membuat perjanjian bersyarat seenaknya. Huh, kebiasaan. "Ya ya ya, terserah Avi," kataku memutar bola mataku.
"Avi, Fia, kita breakfast dulu yuk, nanti langsung berangkat lagi," mamaku, dengan muka kasurnya menghampiri kami. Rambutnya yang bergelombang terlihat rapi untuk ukuran orang yang baru bangun tidur. Wajahnya, postur tubuhnya, keanggunannya, kecantikannya, kefeminimannya, to the max bangeeet!!

to be continued.................. 

No comments:

Post a Comment