Saturday, October 22, 2011

STOP TOPENG MONYET!


Siapa sangka, di balik aksi lucu si monyet yang kerap kali mengundang tawa, kerap kali juga si monyet menjerit, merintih. Kenapa? Karena untuk bisa melakukan atraksi-atraksi yang mengundang tawa tersebut, mereka harus menjalani hari-hari terberat di hidup mereka. Dimana mereka yang sedang bahagia menjalani hidup normalnya di hutan bersama keluarganya, di datangi orang-orang yang tidak peduli pada mereka. Mereka yang belum tau dunia di luar hutan mereka, tiba-tiba di kurung dan di bawa. Bagaimana kalau kita ada di posisi mereka? Apa yang kita rasakan jika kita di ambil dari keluarga kita lalu di bawa ke tempat-tempat yang asing bagi kita?




Tidak hanya sampai di situ, setelah di bawa dan di kurung, mereka di biarkan kelaparan supaya menurut (untuk memudahkan proses latihan). Setelah di biarkan kelaparan, mereka mulai di latih untuk berjalan dengan dua kaki karena naturally, mereka gak bisa berjalan dengan dua kaki seperti manusia. Mereka dilatih dengan cara di gantung terbalik dengan kaki terikat dan leher tercekik. Bila saat diperintah mereka tidak menurut, meraka akan mendapatkan cambukan dari sang majikan. Semakin mereka marah, semakin keras pula cambukannya hingga luka kulitnya menganga. Selain di cambuk atau dipecut, mereka juga sering di lempari dengan batu.

Monyet-monyet yang sudah terlatih pun sering di perintah oleh sang pawang untuk mengambil monyet-monyet keci lainnya yang ada di hutan untuk diperlakukan sama seperti si monyet yang kini sudah terlatih.

Setelah di latih dengan cara kejam seperti itu, mereka di bawa turun ke jalanan, di kelilingi bayang-bayang kematian akan polusi ibukota. Jelas saja, habitat asli mereka berada di tengah hutan yang alami dan sejuk dengan udara yang segar. Mereka perintahkan untuk melakukan aksi mereka dengan rantai yang terikat di leher yang terus di tarik tarik oleh sang pawang. Kadang mereka dipaksa menunjukkan aksinya di dalam kereta.
"Jadi waktu di kereta, ada pertunjukan topeng monyet. Kayanya monyetnya masih newbie deh. Kadang-kadang di suruh gak nurut, sampe telinganya di tusuk pake jarum sama pawangnya," ujar seorang penumpang wanita.

Kita memberikan si pawang uang dengan pikiran bahwa uang tersebut juga milik si monyet. Let us think deh, yang dapet uang itu bukan si monyet kan? Mereka cuma binatang yang diperalat. Kenapa kita gak kasih si monyet makanan aja, kaya pisang, pasti buat si monyet kan? Masih ngerasa kasian sama si majikan? Mikir aja deh ya...

2 comments:

  1. Manusia perlu punya rasa peri kebinatangan kalau tidak manusia sama saja dengan binatang itu sendiri Kritikan kepada Gubernur DKI pemrakarsa razia topeng monyet yang menganalogikan dengan bencong dan pelacur adalah sangat mengada ada http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/10/25/27306/anggota-dpr-kritik-kebijakan-jokowi-yang-razia-topeng-monyet/

    ReplyDelete
  2. Manusia perlu punya rasa peri kebinatangan kalau tidak manusia sama saja dengan binatang itu sendiri Kritikan kepada Gubernur DKI pemrakarsa razia topeng monyet yang menganalogikan dengan bencong dan pelacur adalah sangat mengada ada http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/10/25/27306/anggota-dpr-kritik-kebijakan-jokowi-yang-razia-topeng-monyet/

    ReplyDelete